Jatuh bebas dari puncak monas
February 1st, 2006 by jibigoodPanggil saja pemuda itu Jek.
Melihat peluang akan kebutuhan hiburan di kota-kota besar, suatu sindikat bisnis hiburan telah membuat suatu terobosan baru dan berhasil mendapatkan ijin untuk mengadakan pertunjukan spektakuler berupa adegan terjun bebas dari puncak monas. Panitia yang merupakan gabungan perusahaan entertaiment telah mempersiapkan segalanya, rencana kerja, perijinan, meng-hire pengacara terkenal si manusia pas foto “ anen biyung nasituan”, sindikat tersebut juga telah menyiapkan pendanaannya.
“Ini negara demokratis bung, tak usah munafik”….
”Selama hal ini tidak merugikan atau mengganggu ketertiban, apa salahnya?”….
”Nyawa seseorang kan tanggung jawab masing-masing, kalau memang ada seseorang yang mau menyerahkan nyawanya, ya kita tak dapat berbuat apa-apa toh”…
”Kalau ada yang keberatan ya silakan saja, kita akan menampung aspirasi mereka…yang mau nonton silahkan beli tiket pertunjukkan kami”…..
“Sebagai orang beragama saya sudah menasehati pemuda tadi supaya mengurungkan niatnya, tapi itu semua tergantung pelakunya sendiri….bisa apa kita selain berdoa?”
Begitulah pembelaan-pembelaan terhadap kontroversi pertunjukan tersebut. (dan banyak lagi lainnya yang tak mungkin penulis tuliskan satu persatu disini)
Sindikat hiburan ibukota tersebut menawarkan imbalan sebesar 1 miliar kepada siapa saja yang berani untuk melakukan tindakan bunuh diri tersebut. Suatu pertunjukkan yang tidak biasa dan cukup membuat heboh masyarakat. Tentu saja Jek telah menjadi pusat perhatian sebagai pelaku utama dalam pertunjukan ini. Serangkaian wawancara dilakukan oleh salah satu stasiun tv untuk mengetahui latar belakangnya, pendidikannya, apa yang menjadi harapan dan tujuan hidupnya; semua terlihat normal saja, layaknya anak muda yang sedang jaya di usianya.
Minggu-minggu ini Jek telah menjadi topik pembicaraan yang hangat di segala lapisan, hampir seluruh media membuat liputannya. Seorang pemuda wajahnya muncul di halaman utama / sampul majalah, koran, tabloid dan sejenisnya; dia adalah seorang pemuda yang sehat, tampang pemberani, bersemangat, energik, dan tak ada hal yang aneh atau spesial dari anak muda tersebut.
“Saya rasa ini hal biasa saja, setelah mengitung untung rugi, saya menerima tawaran tersebut, ini hanyalah bisnis semata….itu saja!”
“Bukankah aneh dan tidak menguntungkan, bahwa anda harus kehilangan hidup dengan cara seperti ini sementara sindikat tersebut mendapat keuntungan yang besar dari pertunjukan ini?”
“Yah begitulah juga tadinya saya berpikir, tapi siapa sih yang tidak melakukan sesuatu demi uang?”…begitulah statemen terakhir yang diberikan oleh Jek dalam sutau kesempatan wawancara di ruang supersuite di salah satu Hotel No.1 yang disediakan panitia kepadanya.
Pernyataan2 yang dibuat Jek tersebut langsung menjadi pembahasan para pakar n narasumber di bidang agama, pendidikan, psikolog, politik dll…dia menjadi triger berbagai macam acara dan menghasilkan perputaran uang yang cukup menggiurkan untuk kota ini.
Berdasarkan hasil polling dan survei, para wanita mengatakan bahwa Jek adalah pemuda yang manis, pemberani, dadanya bidang dan posturnya cukup menjanjikan…”Mau dong jadi cewek kamu Jek”..begitulah hasil wawancara dari salah satu mahasiswi yang ditemui di salah satu café di jakarta.
Tiket telah terjual habis beberapa hari sebelumnya, dan tibalah hari-H nya, minggu ke-2 Februari 2006 hari Minggu jam 9 pagi dimana Jek akan terjun bebas dari puncak Monas. Tempat duduk telah penuh terisi, sebagian berdiri, penonton semua berada di ruang terbuka.
Penonton menahan nafas dan tegang saat Jek bersiap untuk melompat. Lalu Jek menjatuhkan diri, dan terhempas ke beton kemudian langsung mati. Acara segera usai dan penonton beranjak pulang. Penonton berpikir konyol sekali pertunjukkan ini, untuk menyaksikan hal sesimpel seperti itu telah membayar terlalu mahal (walaupun mereka dapat menyaksikan juga secara langsung bagaimana seseorang jatuh dan hancur berkeping-keping)
Penonton menggerutu dalam perjalanan meninggalkan area pertunjukkan, mereka kesal dan kecewa, yang wanitanya berpikir sia-sia saja mereka telah berdandan cuma buat nonton hal tak berguna seperti itu. Pemikiran lain yang muncul di benak mereka adalah : Segala sesuatu dalam mencari kepuasan akan sia-sia jika tidak dilakukan di dalam……
Playboy hanya bisnis semata?
