The Virtue of Flexibility

March 16th, 2006 by jibigood

Trees look strong compared with the wild reeds in the field. But when the storm comes the trees are uprooted, whereas the wild reeds, while moved back and forth by the wind, remain rooted and are standing up again when the storm has calmed down.

Flexibility is a great virtue. When we cling to our own positions and are not willing to let our hearts be moved back and forth a little by the ideas or actions of others, we may easily be broken. Being like wild reeds does not mean being wishy-washy. It means moving a little with the winds of the time while remaining solidly anchored in the ground. A humorless, intense, opinionated rigidity about current issues might cause these issues to break our spirits and make us bitter people. Let’s be flexible while being deeply rooted. (Henri JM Nouwen)

Hidup untuk saat ini dan disini…

March 5th, 2006 by jibigood

Part 1  :

Masa dalam hidup kita ada yang mendatangkan kekecewaan ada pula yang menyenangkan. Memaafkan hal-hal di masa lalu yang mengecewakan sama pentingnya dengan mengenang segala yang menyenangkan sehingga dapat membuat kita tersenyum di hari ini.

Hari ini gue bisa tersenyum 2 kali lebih lebar dari senyum yang biasa. Lho kok bisa?…Ya bisa dong….Gue mengenang masa lalu dimana pada waktu yang bersamaan gue mengalami kekecewaan sekaligus kebahagiaan.

Bandung, November 1996.

Ah cakep banget cewek yg duduk sebelah gue dimeja bar ini…

”Ahem…maaf ya kalau saya kurang sopan, saya tidak tahan untuk tidak berkenalan dengan orang semenarik kamu…boleh saya tahu nama kamu?” Begitulah pembuka yang biasa gue ucapin ke cewek cakep yang baru gue kenal (yang dalam pikiran n tujuan gue akan menjurus ke sex)

Ditempat inilah kejadian ini berawal, di sebuah Pub ”Blue Sea” di jalan Braga tepat di sudut persimpangan Lembong-Braga (katanya sih pub itu udah bangkrut sekarang).

Singkat cerita, gue sama cewek menarik itu memilih untuk duduk di meja kecil yang letaknya disudut, dapat memandang ke jalan dari balik kaca warna-warni bergambar perahu, di sudut yang tidak terlalu ramai, dan bisa ngobrol dengan tenang berduaan.

Begitu indah dan menyenangkannya malam itu, bukan karena musik dan lagu2 slow rock tahun 70-an yang mengalun merdu ataupun suasananya, bukan pula karena bir ataupun makanan yang disajikan, namun terlebih karena orang yang duduk bersama di meja kecil ini.

Gue sama dia ngobrol tentang banyak hal, tentang hal-hal yang tidak penting, apapun yang kami obrolkan terasa begitu menyenangkan dan hangat.

Ngobrol, saling tersenyum, terdiam, bersamaan ingin ngomong lalu saling menyilahkan untuk bicara lebih dulu, saling curi pandang, terdiam kembali, memandang ke luar ke arah jalan tetapi pikiran tetap ke orang yang ada didepannya, tersenyum dan tersipu saat bertemu pandang…aaah, suasana dan orang-orang yang hadir di tempat itu tak ada artinya sama sekali, yang ada cuma rasa senang karena kehadiran dan kehangatan orang yang ada di hadapan masing-masing.

Ah! duduk berdua di satu meja telah menembus dimensi waktu dan ruang rupanya..waktu tak terasa lagi, suasana di tempat itu juga tidak terasa sama sekali.. tau-tau sudah jam 1 pagi. Lalu kita berdua memutuskan untuk berjalan kaki dan menemani pulang ke kosnya. Sepanjang jalan Braga yang diterangi lampu jalan bersinar kuning temaram, kita berdua berjalan bergandengan tangan menikmati malam..tak tok tak tok…begitulah langkah kakinya terdengar saat sepatunya beradu dengan con blok trotoar.

God’s faithfulness and ours

March 5th, 2006 by jibigood

When God makes a covenant with us, God says: "I will love you with an everlasting love. I will be faithful to you, even when you run away from me, reject me, or betray me." In our society we don’t speak much about covenants; we speak about contracts. When we make a contract with a person, we say: "I will fulfill my part as long as you fulfill yours. When you don’t live up to your promises, I no longer have to live up to mine." Contracts are often broken because the partners are unwilling or unable to be faithful to their terms.

But God didn’t make a contract with us; God made a covenant with us, and God wants our relationships with one another to reflect that covenant. That’s why marriage, friendship, life in community are all ways to give visibility to God’s faithfulness in our lives together. (Henry JM Nouwen)

The Balance Between Closeness and Distance

February 24th, 2006 by jibigood

The Balance Between Closeness and Distance (Henry JM Nouwen)

Intimacy between people requires closeness as well as distance. It is like dancing. Sometimes we are very close, touching each other or holding each other; sometimes we move away from each other and let the space between us become an area where we can freely move.

To keep the right balance between closeness and distance requires hard work, especially since the needs of the partners may be quite different at a given moment. One might desire closeness while the other wants distance. One might want to be held while the other looks for independence. A perfect balance seldom occurs, but the honest and open search for that balance can give birth to a beautiful dance, worthy to behold.

No Comment

February 14th, 2006 by jibigood

Saat pulang ke rumah dari kantor, jalur-jalur yang dilewati tidak pernah dipikir dan dipertimbangkan sedemikian rupa, hampir setiap hari dengan rute yang sama, belok kanan atau kiri, lewat jalan A atau B, semuanya berjalan secara sendiri. Automatically.

Proses mencari jalur-jalur alternatif sudah lama terlampaui, walaupun ada jalan yang ditutup dan dialihkan karena hal-hal khusus, tangan dan kaki ini akan merespon secara otomatis mencari jalan lain untuk mencapai tujuan pulang ke rumah.

Pernah seorang teman tanya ke gue ”Jhon gimana caranya kok sampai bisa bermalem bareng Dessy Ratnasari?” Wah…sulit banget. Mungkin kalau hal ini ditanyakan 10 tahun yll, gue pasti bisa menjawab bagaimana rincian langkah-langkahnya.

Tapi sekarang sulit sekali menjelaskannya. Awalnya waktu sore-sore ketemu dessy di pasaraya entah bagaimana jalannya tau-tau sudah pagi dan saat terbangun ada cewek cantik tertidur di sebelah gue. Dalam keadaan setengah sadar gue langsung bergegas cuci muka dan berpakaian, sambil *sensor* gue bilang ”Neng Eci, Aa pulang dulu yah sekarang?” Hmm.. semua terjadi begitu saja. So natural so magical.

Yah gitu deh terserah temen-temen mau percaya atau tidak. Kalau cerita ini dianggap ngibul tanyakan saja langsung ke dessy sendiri, pasti akan dijawab ”No komenlah!”

Budi Pekerti

February 14th, 2006 by jibigood

Dari gedung 8 lantai ini, hanya ada satu staff cewek yang bodinya oke banget dan cantik menawan, gue pikir kurang pantes dia ada di kantor ini. Sebab orang secantik dia cocoknya jadi model atau artis sinetron.

Sayangnya dia hanya bergaul akarab dengan orang-orang tertentu saja, orang-orang yang berprestasi baik di kantor.

Entah benar entah enggak, wanita itu melihat gue sebagai staff biasa-biasa saja dengan pergaulan yang biasa-biasa saja dan prestasinya biasa-biasa saja juga. Dan belum pernah sekalipun dia menyapa gue lebih dulu. Tak terkait langsung dengan gue, dia juga sangat membenci rock n roll!

Tapi hari itu….Pandangannya terhadap gue berubah!

Saat akan menghadiri rapat anggaran tahunan, teman-teman yang biasa akarab dengannya memandangnya sambil tertawa-rawa dan cewek itu tidak tahu sebabnya.

Gue perhatiin dia mengeluarkan kaca untuk bercermin tetapi mukanya memang tidak kenapa-kenapa…Apa gerangan sih yang mereka tertawakan?. ”Astaga, ternyata ada sesuatu!”

Terus gue deketin cewek ini dan dengan suara agak berbisik gue bilang supaya dia mengeluarkan bajunya. Eh dia malah tersinggung karena merasa gue mau ngatur-ngatur, padahal kan gue bermaksud supaya dia ga diketawain orang-orang.

Sambil cemberut kemudian dia balik badan. Nah, pada kesempatan ini langsung aja gue tepok pantatnya ”Plok” sambil bergegas gue menjauh meninggalkannya, dan masih sempat gue denger umpatan ”Dasar cowok brengsek Lo!” ….Ah wanita itu ga mengerti maksud kata-kata n tindakan gue.

Dia memeriksa dan meraba-raba roknya, lantas kaget karena ternyata bagian belakang roknya robek cukup lebar. Mungkin robek terkait sesuatu yang hanya dialah yang tahu.

Dari kejauhan gue lihat dia mengeluarkan bajunya, wajahnya nampak kecewa terhadap teman-temannya termasuk kepada Rina sohibnya, yang telah sengaja membiarkan dirinya dipermalukan.

Lalu dia melihat dan berjalan mendekat sambil tersipu ke arah gue…ke arah lelaki biasa-biasa saja yang telah menaruh perhatian kepadanya.

Sejak saat itu dia menyadari bahwa budi pekerti seseorang tidak diukur dari apakah orang itu berprestasi atau tidak…Ahem, dan tak terasa sampai saat ini gue sama dia telah beberapa kali melewatkan malam indah nan syahdu bersama-sama…Eh hampir lupa. Ada hikmah yang penting semenjak kejadian tersebut,  dia mulai belajar menyukai Rock n Roll!

Words That Feed Us

February 13th, 2006 by jibigood

Words That Feed Us

When we talk to one another, we often talk about what happened, what we are doing, or what we plan to do. Often we say, "What’s up?" and we encourage one another to share the details of our daily lives. But often we want to hear something else. We want to hear, "I’ve been thinking of you today," or "I missed you," or "I wish you were here," or "I really love you." It is not always easy to say these words, but such words can deepen our bonds with one another.

Telling someone "I love you" in whatever way is always delivering good news. Nobody will respond by saying, "Well, I knew that already, you don’t have to say it again"! Words of love and affirmation are like bread. We need them each day, over and over. They keep us alive inside. (Henry J.M. Nouwen)

BECOMING KIND

February 6th, 2006 by jibigood

Becoming Kind (Henry J.M. Nouwen)

Kindness is a beautiful human attribute. When we say, "She is a kind person" or "He surely was kind to me," we express a very warm feeling. In our competitive and often violent world, kindness is not the most frequent response. But when we encounter it we know that we are blessed. Is it possible to grow in kindness, to become a kind person? Yes, but it requires discipline. To be kind means to treat another person as your "kin," your intimate relative. We say, "We are kin" or "He is next of kin." To be kind is to reach out to someone as being of "kindred" spirit.

Here is the great challenge: All people, whatever their color, religion, or sex, belong to humankind and are called to be kind to one another, treating one another as brothers and sisters. There is hardly a day in our lives in which we are not called to this.

Solidarity in Weakness

February 1st, 2006 by jibigood

Dm_henry_nouwen_2

Solidarity in Weakness (Henry J.M. Nouwen)

www.henrinouwen.org/books/overview/

Joy is hidden in compassion. The word compassion literally means "to suffer with." It seems quite unlikely that suffering with another person would bring joy. Yet being with a person in pain, offering simple presence to someone in despair, sharing with a friend times of confusion and uncertainty … such experiences can bring us deep joy. Not happiness, not excitement, not great satisfaction, but the quiet joy of being there for someone else and living in deep solidarity with our brothers and sisters in this human family. Often this is a solidarity in weakness, in brokenness, in woundedness, but it leads us to the center of joy, which is sharing our humanity with others.

Universal

February 1st, 2006 by jibigood

Apa ya paling universal ?

Seorang fren bingung n nanya begini :

“18 rock, 20 suka metal. berapa orang yang suka keduanya?…terus bikin lingkaran2 yang beririsan didapatkan 8 org suka keduanya..bisa ngikutin kan?” 

“ngga bisa ngikutin gue. kenapa harus 8?” (gue jadi bertanya-tanya, dulu kalkulus dia dapet berapa ya?)

Menjawab pertanyaan tersebut :

Lihat diagram. Diagram_1

Suatu kelas (semesta) terdiri 30 murid :

- 18 suka rock (R),

- 20 suka metal (M)

- Berapa menyukai Rock juga Metal?

…..terus bikin lingkaran2 spt diagram disamping…didapatkan 8.

Terus berdasarkan literatur yang dia baca, dia bilang yang "8" itu bukan yang universal…tapi adalah S atau himpunan kosong.

Bener juga perempuan satu itu!