Archive for March, 2006

Living Faithfully in an Ambiguous World

Wednesday, March 29th, 2006

Our hearts and minds desire clarity. We like to have a clear picture of a situation, a clear view of how things fit together, and clear insight into our own and the world’s problems. But just as in nature colors and shapes mingle without clear-cut distinctions, human life doesn’t offer the clarity we are looking for. The borders between love and hate, evil and good, beauty and ugliness, heroism and cowardice, care and neglect, guilt and blamelessness are mostly vague, ambiguous, and hard to discern.

It is not easy to live faithfully in a world full of ambiguities. We have to learn to make wise choices without needing to be entirely sure. (Henri JM Nouwen)

The Virtue of Flexibility

Thursday, March 16th, 2006

Trees look strong compared with the wild reeds in the field. But when the storm comes the trees are uprooted, whereas the wild reeds, while moved back and forth by the wind, remain rooted and are standing up again when the storm has calmed down.

Flexibility is a great virtue. When we cling to our own positions and are not willing to let our hearts be moved back and forth a little by the ideas or actions of others, we may easily be broken. Being like wild reeds does not mean being wishy-washy. It means moving a little with the winds of the time while remaining solidly anchored in the ground. A humorless, intense, opinionated rigidity about current issues might cause these issues to break our spirits and make us bitter people. Let’s be flexible while being deeply rooted. (Henri JM Nouwen)

Hidup untuk saat ini dan disini…

Sunday, March 5th, 2006

Part 1  :

Masa dalam hidup kita ada yang mendatangkan kekecewaan ada pula yang menyenangkan. Memaafkan hal-hal di masa lalu yang mengecewakan sama pentingnya dengan mengenang segala yang menyenangkan sehingga dapat membuat kita tersenyum di hari ini.

Hari ini gue bisa tersenyum 2 kali lebih lebar dari senyum yang biasa. Lho kok bisa?…Ya bisa dong….Gue mengenang masa lalu dimana pada waktu yang bersamaan gue mengalami kekecewaan sekaligus kebahagiaan.

Bandung, November 1996.

Ah cakep banget cewek yg duduk sebelah gue dimeja bar ini…

”Ahem…maaf ya kalau saya kurang sopan, saya tidak tahan untuk tidak berkenalan dengan orang semenarik kamu…boleh saya tahu nama kamu?” Begitulah pembuka yang biasa gue ucapin ke cewek cakep yang baru gue kenal (yang dalam pikiran n tujuan gue akan menjurus ke sex)

Ditempat inilah kejadian ini berawal, di sebuah Pub ”Blue Sea” di jalan Braga tepat di sudut persimpangan Lembong-Braga (katanya sih pub itu udah bangkrut sekarang).

Singkat cerita, gue sama cewek menarik itu memilih untuk duduk di meja kecil yang letaknya disudut, dapat memandang ke jalan dari balik kaca warna-warni bergambar perahu, di sudut yang tidak terlalu ramai, dan bisa ngobrol dengan tenang berduaan.

Begitu indah dan menyenangkannya malam itu, bukan karena musik dan lagu2 slow rock tahun 70-an yang mengalun merdu ataupun suasananya, bukan pula karena bir ataupun makanan yang disajikan, namun terlebih karena orang yang duduk bersama di meja kecil ini.

Gue sama dia ngobrol tentang banyak hal, tentang hal-hal yang tidak penting, apapun yang kami obrolkan terasa begitu menyenangkan dan hangat.

Ngobrol, saling tersenyum, terdiam, bersamaan ingin ngomong lalu saling menyilahkan untuk bicara lebih dulu, saling curi pandang, terdiam kembali, memandang ke luar ke arah jalan tetapi pikiran tetap ke orang yang ada didepannya, tersenyum dan tersipu saat bertemu pandang…aaah, suasana dan orang-orang yang hadir di tempat itu tak ada artinya sama sekali, yang ada cuma rasa senang karena kehadiran dan kehangatan orang yang ada di hadapan masing-masing.

Ah! duduk berdua di satu meja telah menembus dimensi waktu dan ruang rupanya..waktu tak terasa lagi, suasana di tempat itu juga tidak terasa sama sekali.. tau-tau sudah jam 1 pagi. Lalu kita berdua memutuskan untuk berjalan kaki dan menemani pulang ke kosnya. Sepanjang jalan Braga yang diterangi lampu jalan bersinar kuning temaram, kita berdua berjalan bergandengan tangan menikmati malam..tak tok tak tok…begitulah langkah kakinya terdengar saat sepatunya beradu dengan con blok trotoar.

God’s faithfulness and ours

Sunday, March 5th, 2006

When God makes a covenant with us, God says: "I will love you with an everlasting love. I will be faithful to you, even when you run away from me, reject me, or betray me." In our society we don’t speak much about covenants; we speak about contracts. When we make a contract with a person, we say: "I will fulfill my part as long as you fulfill yours. When you don’t live up to your promises, I no longer have to live up to mine." Contracts are often broken because the partners are unwilling or unable to be faithful to their terms.

But God didn’t make a contract with us; God made a covenant with us, and God wants our relationships with one another to reflect that covenant. That’s why marriage, friendship, life in community are all ways to give visibility to God’s faithfulness in our lives together. (Henry JM Nouwen)