Archive for February, 2006

The Balance Between Closeness and Distance

Friday, February 24th, 2006

The Balance Between Closeness and Distance (Henry JM Nouwen)

Intimacy between people requires closeness as well as distance. It is like dancing. Sometimes we are very close, touching each other or holding each other; sometimes we move away from each other and let the space between us become an area where we can freely move.

To keep the right balance between closeness and distance requires hard work, especially since the needs of the partners may be quite different at a given moment. One might desire closeness while the other wants distance. One might want to be held while the other looks for independence. A perfect balance seldom occurs, but the honest and open search for that balance can give birth to a beautiful dance, worthy to behold.

No Comment

Tuesday, February 14th, 2006

Saat pulang ke rumah dari kantor, jalur-jalur yang dilewati tidak pernah dipikir dan dipertimbangkan sedemikian rupa, hampir setiap hari dengan rute yang sama, belok kanan atau kiri, lewat jalan A atau B, semuanya berjalan secara sendiri. Automatically.

Proses mencari jalur-jalur alternatif sudah lama terlampaui, walaupun ada jalan yang ditutup dan dialihkan karena hal-hal khusus, tangan dan kaki ini akan merespon secara otomatis mencari jalan lain untuk mencapai tujuan pulang ke rumah.

Pernah seorang teman tanya ke gue ”Jhon gimana caranya kok sampai bisa bermalem bareng Dessy Ratnasari?” Wah…sulit banget. Mungkin kalau hal ini ditanyakan 10 tahun yll, gue pasti bisa menjawab bagaimana rincian langkah-langkahnya.

Tapi sekarang sulit sekali menjelaskannya. Awalnya waktu sore-sore ketemu dessy di pasaraya entah bagaimana jalannya tau-tau sudah pagi dan saat terbangun ada cewek cantik tertidur di sebelah gue. Dalam keadaan setengah sadar gue langsung bergegas cuci muka dan berpakaian, sambil *sensor* gue bilang ”Neng Eci, Aa pulang dulu yah sekarang?” Hmm.. semua terjadi begitu saja. So natural so magical.

Yah gitu deh terserah temen-temen mau percaya atau tidak. Kalau cerita ini dianggap ngibul tanyakan saja langsung ke dessy sendiri, pasti akan dijawab ”No komenlah!”

Budi Pekerti

Tuesday, February 14th, 2006

Dari gedung 8 lantai ini, hanya ada satu staff cewek yang bodinya oke banget dan cantik menawan, gue pikir kurang pantes dia ada di kantor ini. Sebab orang secantik dia cocoknya jadi model atau artis sinetron.

Sayangnya dia hanya bergaul akarab dengan orang-orang tertentu saja, orang-orang yang berprestasi baik di kantor.

Entah benar entah enggak, wanita itu melihat gue sebagai staff biasa-biasa saja dengan pergaulan yang biasa-biasa saja dan prestasinya biasa-biasa saja juga. Dan belum pernah sekalipun dia menyapa gue lebih dulu. Tak terkait langsung dengan gue, dia juga sangat membenci rock n roll!

Tapi hari itu….Pandangannya terhadap gue berubah!

Saat akan menghadiri rapat anggaran tahunan, teman-teman yang biasa akarab dengannya memandangnya sambil tertawa-rawa dan cewek itu tidak tahu sebabnya.

Gue perhatiin dia mengeluarkan kaca untuk bercermin tetapi mukanya memang tidak kenapa-kenapa…Apa gerangan sih yang mereka tertawakan?. ”Astaga, ternyata ada sesuatu!”

Terus gue deketin cewek ini dan dengan suara agak berbisik gue bilang supaya dia mengeluarkan bajunya. Eh dia malah tersinggung karena merasa gue mau ngatur-ngatur, padahal kan gue bermaksud supaya dia ga diketawain orang-orang.

Sambil cemberut kemudian dia balik badan. Nah, pada kesempatan ini langsung aja gue tepok pantatnya ”Plok” sambil bergegas gue menjauh meninggalkannya, dan masih sempat gue denger umpatan ”Dasar cowok brengsek Lo!” ….Ah wanita itu ga mengerti maksud kata-kata n tindakan gue.

Dia memeriksa dan meraba-raba roknya, lantas kaget karena ternyata bagian belakang roknya robek cukup lebar. Mungkin robek terkait sesuatu yang hanya dialah yang tahu.

Dari kejauhan gue lihat dia mengeluarkan bajunya, wajahnya nampak kecewa terhadap teman-temannya termasuk kepada Rina sohibnya, yang telah sengaja membiarkan dirinya dipermalukan.

Lalu dia melihat dan berjalan mendekat sambil tersipu ke arah gue…ke arah lelaki biasa-biasa saja yang telah menaruh perhatian kepadanya.

Sejak saat itu dia menyadari bahwa budi pekerti seseorang tidak diukur dari apakah orang itu berprestasi atau tidak…Ahem, dan tak terasa sampai saat ini gue sama dia telah beberapa kali melewatkan malam indah nan syahdu bersama-sama…Eh hampir lupa. Ada hikmah yang penting semenjak kejadian tersebut,  dia mulai belajar menyukai Rock n Roll!

Words That Feed Us

Monday, February 13th, 2006

Words That Feed Us

When we talk to one another, we often talk about what happened, what we are doing, or what we plan to do. Often we say, "What’s up?" and we encourage one another to share the details of our daily lives. But often we want to hear something else. We want to hear, "I’ve been thinking of you today," or "I missed you," or "I wish you were here," or "I really love you." It is not always easy to say these words, but such words can deepen our bonds with one another.

Telling someone "I love you" in whatever way is always delivering good news. Nobody will respond by saying, "Well, I knew that already, you don’t have to say it again"! Words of love and affirmation are like bread. We need them each day, over and over. They keep us alive inside. (Henry J.M. Nouwen)

BECOMING KIND

Monday, February 6th, 2006

Becoming Kind (Henry J.M. Nouwen)

Kindness is a beautiful human attribute. When we say, "She is a kind person" or "He surely was kind to me," we express a very warm feeling. In our competitive and often violent world, kindness is not the most frequent response. But when we encounter it we know that we are blessed. Is it possible to grow in kindness, to become a kind person? Yes, but it requires discipline. To be kind means to treat another person as your "kin," your intimate relative. We say, "We are kin" or "He is next of kin." To be kind is to reach out to someone as being of "kindred" spirit.

Here is the great challenge: All people, whatever their color, religion, or sex, belong to humankind and are called to be kind to one another, treating one another as brothers and sisters. There is hardly a day in our lives in which we are not called to this.

Solidarity in Weakness

Wednesday, February 1st, 2006

Dm_henry_nouwen_2

Solidarity in Weakness (Henry J.M. Nouwen)

www.henrinouwen.org/books/overview/

Joy is hidden in compassion. The word compassion literally means "to suffer with." It seems quite unlikely that suffering with another person would bring joy. Yet being with a person in pain, offering simple presence to someone in despair, sharing with a friend times of confusion and uncertainty … such experiences can bring us deep joy. Not happiness, not excitement, not great satisfaction, but the quiet joy of being there for someone else and living in deep solidarity with our brothers and sisters in this human family. Often this is a solidarity in weakness, in brokenness, in woundedness, but it leads us to the center of joy, which is sharing our humanity with others.

Universal

Wednesday, February 1st, 2006

Apa ya paling universal ?

Seorang fren bingung n nanya begini :

“18 rock, 20 suka metal. berapa orang yang suka keduanya?…terus bikin lingkaran2 yang beririsan didapatkan 8 org suka keduanya..bisa ngikutin kan?” 

“ngga bisa ngikutin gue. kenapa harus 8?” (gue jadi bertanya-tanya, dulu kalkulus dia dapet berapa ya?)

Menjawab pertanyaan tersebut :

Lihat diagram. Diagram_1

Suatu kelas (semesta) terdiri 30 murid :

- 18 suka rock (R),

- 20 suka metal (M)

- Berapa menyukai Rock juga Metal?

…..terus bikin lingkaran2 spt diagram disamping…didapatkan 8.

Terus berdasarkan literatur yang dia baca, dia bilang yang "8" itu bukan yang universal…tapi adalah S atau himpunan kosong.

Bener juga perempuan satu itu!

Jatuh bebas dari puncak monas

Wednesday, February 1st, 2006

Panggil saja pemuda itu Jek.

Melihat peluang akan kebutuhan hiburan di kota-kota besar, suatu sindikat bisnis hiburan telah membuat suatu terobosan baru dan berhasil mendapatkan ijin untuk mengadakan pertunjukan spektakuler berupa adegan terjun bebas dari puncak monas. Panitia yang merupakan gabungan perusahaan entertaiment telah mempersiapkan segalanya, rencana kerja, perijinan, meng-hire pengacara terkenal si manusia pas foto “ anen biyung nasituan”, sindikat tersebut juga telah menyiapkan pendanaannya.

“Ini negara demokratis bung, tak usah munafik”….

”Selama hal ini tidak merugikan atau mengganggu ketertiban, apa salahnya?”….

”Nyawa seseorang kan tanggung jawab masing-masing, kalau memang ada seseorang yang mau menyerahkan nyawanya, ya kita tak dapat berbuat apa-apa toh”…

”Kalau ada yang keberatan ya silakan saja, kita akan menampung aspirasi mereka…yang mau nonton silahkan beli tiket pertunjukkan kami”…..

“Sebagai orang beragama saya sudah menasehati pemuda tadi supaya mengurungkan niatnya, tapi itu semua tergantung pelakunya sendiri….bisa apa kita selain berdoa?”

Begitulah pembelaan-pembelaan terhadap kontroversi pertunjukan tersebut. (dan banyak lagi lainnya yang tak mungkin penulis tuliskan satu persatu disini)

Sindikat hiburan ibukota tersebut menawarkan imbalan sebesar 1 miliar kepada siapa saja yang berani untuk melakukan tindakan bunuh diri tersebut. Suatu pertunjukkan yang tidak biasa dan cukup membuat heboh masyarakat. Tentu saja Jek telah menjadi pusat perhatian sebagai pelaku utama dalam pertunjukan ini. Serangkaian wawancara dilakukan oleh salah satu stasiun tv untuk mengetahui latar belakangnya, pendidikannya, apa yang menjadi harapan dan tujuan hidupnya; semua terlihat normal saja, layaknya anak muda yang sedang jaya di usianya.

Minggu-minggu ini Jek telah menjadi topik pembicaraan yang hangat di segala lapisan, hampir seluruh media membuat liputannya. Seorang pemuda wajahnya muncul di halaman utama / sampul majalah, koran, tabloid dan sejenisnya; dia adalah seorang pemuda yang sehat, tampang pemberani, bersemangat, energik, dan tak ada hal yang aneh atau spesial dari anak muda tersebut.

“Saya rasa ini hal biasa saja, setelah mengitung untung rugi, saya menerima tawaran tersebut, ini hanyalah bisnis semata….itu saja!”

“Bukankah aneh dan tidak menguntungkan, bahwa anda harus kehilangan hidup dengan cara seperti ini sementara sindikat tersebut mendapat keuntungan yang besar dari pertunjukan ini?”

“Yah begitulah juga tadinya saya berpikir, tapi siapa sih yang tidak melakukan sesuatu demi uang?”…begitulah statemen terakhir yang diberikan oleh Jek dalam sutau kesempatan wawancara di ruang supersuite di salah satu Hotel No.1 yang disediakan panitia kepadanya.

Pernyataan2 yang dibuat Jek tersebut langsung menjadi pembahasan para pakar n narasumber di bidang agama, pendidikan, psikolog, politik dll…dia menjadi triger berbagai macam acara dan menghasilkan perputaran uang yang cukup menggiurkan untuk kota ini.

Berdasarkan hasil polling dan survei, para wanita mengatakan bahwa Jek adalah pemuda yang manis, pemberani, dadanya bidang dan posturnya cukup menjanjikan…”Mau dong jadi cewek kamu Jek”..begitulah hasil wawancara dari salah satu mahasiswi yang ditemui di salah satu café di jakarta.

Tiket telah terjual habis beberapa hari sebelumnya, dan tibalah hari-H nya, minggu ke-2 Februari 2006 hari Minggu jam 9 pagi dimana Jek akan terjun bebas dari puncak Monas. Tempat duduk telah penuh terisi, sebagian berdiri, penonton semua berada di ruang terbuka.

Penonton menahan nafas dan tegang saat Jek bersiap untuk melompat. Lalu Jek menjatuhkan diri, dan terhempas ke beton kemudian langsung mati. Acara segera usai dan penonton beranjak pulang.  Penonton berpikir konyol sekali pertunjukkan ini, untuk menyaksikan hal sesimpel seperti itu telah membayar terlalu mahal (walaupun mereka dapat menyaksikan juga secara langsung bagaimana seseorang jatuh dan hancur berkeping-keping)

Penonton menggerutu dalam perjalanan meninggalkan area pertunjukkan, mereka kesal dan kecewa, yang wanitanya berpikir sia-sia saja mereka telah berdandan cuma buat nonton hal tak berguna seperti itu. Pemikiran lain yang muncul di benak mereka adalah : Segala sesuatu dalam mencari kepuasan akan sia-sia jika tidak dilakukan di dalam……

Playboy hanya bisnis semata?