Rock of The World

Sebuah kapal dengan layar hitam datang membawaku berlayar. Dan tak kusia-siakan kesempatan ini. Kupikir cukup baik untuk melakukan sedikit kesenangan; toh aku masih cukup muda dan bisa jaga diri. Lagi pula inilah hasratku yang terpendam, hasrat untuk kebebasan.

Mengarung keluar menuju samudera, daratan segera menghilang di belakang, dan kapal terus melaju menembus angin segar. Para awak kapal yang kujumpai sangat disiplin, cukup baik dan sedikit bicara. Kami berlayar dan berlayar, siang dan malam, untuk waktu yang panjang dan terus seperti itu. Tidak ada keinginan untuk berlabuh dimanapun, kami bebas!. Berlayar tahun demi tahun di laut luas yang anginnya baik. Tak sedikitpun tanda untuk berlabuh. Ada saat aku merasa terasing dan bertanya pada salah satu awaknya, mengapa kita tidak pernah ke daratan. Awak itu menjawab tidak ada yang dinamakan dunia lagi. Dunia telah lenyap, tenggelam di kekelaman. Yang ada hanya kita.

Perjalanan yang jauh dan penuh rahasia, kadang aku berpikir dimana kaptennya? Kami mengkapteni diri sendiri, kami adalah manusia bebas.

Aku rasakan ini luar biasa. Kami tetap berlayar untuk waktu yang lama. Laut terbentang luas. Angin terus berhembus, akrab dengan layar hitam. Segala sesuatunya terasa kosong; hanya ada kedalaman di bawahnya. Entah darimana, tiba-tiba datang serangan badai yang menggetarkan. Samudera meraung dan menghantam sekeliling kapal. Kami berjuang di dalam gelap. Badai tak juga mau surut, juga kegelapan. Bertahun-tahun tak juga berhenti. Kabut gelap menyelimuti layar hitam, segalanya kelam, hampa, dan terasing. Kami berjuang di gelapnya malam, dalam kebingungan dan keinginan, meronta, menjerit, berpeluh campur air mata, tak berani berharap lagi.

Sampai saatnya kami dengar dentuman kehancuran. Kami dilanda gelombang dan terhempas pada karang yang muncul dari dalam laut. Kami hancur berkeping-keping dan berpegangan pada batu karang. Layar Hitam itu utuh tak terkoyak namun kini terapung menjauh; dan dengan segenap daya kami bertahan di karang itu.

Sementara bertahan, aku berpikir. Aku tahu nanti, sesaat tadi, sebelum kandas telah diberitahukan padaku. Layar hitam akan terkembang, datang kembali bersama panji-panji tengkoraknya, pangeran kegelapan kaptennya. Gemetar dan takut kurasa. Akankah aku terbawa lagi?

Tak lama, ada berkas cahaya menelusup kelabu dan kami mulai dapat melihat. Karang yang menyelamatkan ini ternyata pulau kecil yang berbatu dan suram. Hanya ada sebatang pohon dengan sedikit tunas daun, tak berbunga, tidak indah, bercabang silang diatasnya, bermahkota duri di puncaknya, namun kami tertarik berada didekatnya. Kami dapat bergembira, berbaring, dan menangis karena sukacita. Ini adalah tanda kehidupan, awal kebangkitan melawan kegelapan dunia.

One Response to “Rock of The World”

  1. Myr Says:

    mirip scene film kingkong! ya sutr kamu bikin versi barunya aja, ksh judul kongking..

Leave a Reply