Archive for January, 2006

Pasukan Ketan Item

Sunday, January 29th, 2006

Pasukan Ketan Item :

Pasukan Kesatuan Setan Ingin BerantemBsdlogo

Bapaku…juga buat pencinta togel

Tuesday, January 17th, 2006

290489

Kau berikan dirimu, dan nyatakan janjimu

Diluar pikiranku, memanggil merdu namaku

Duasembilan, kosongempat, delapansembilan

Kau masuk dalam hatiku.

Kapan kita dapat bertemu?

Daun berguguran, sejak kau panggil aku

Dalam jalan-jalan yang kulalui, perlahan menjadi layu

Di jalan ini, neraka senantiasa memanggil

Di jalan sunyi itu, surga sabar menunggu

Kukatakan ya bapa, tuk hidup dalam hidupmu

Namun kulampiaskan pula nafsuku


Ini anakmu, kutahu kau rindukan aku

Jalan mana kupilih, akankah kita bertemu?

Kautabur benih itu padaku, terhimpit di hati yang membatu

Siapa gerangan perlindunganku? Balik padamu?

Aku memang tak tahu malu, aku akan pulang padamu

Rock of The World

Tuesday, January 17th, 2006

Sebuah kapal dengan layar hitam datang membawaku berlayar. Dan tak kusia-siakan kesempatan ini. Kupikir cukup baik untuk melakukan sedikit kesenangan; toh aku masih cukup muda dan bisa jaga diri. Lagi pula inilah hasratku yang terpendam, hasrat untuk kebebasan.

Mengarung keluar menuju samudera, daratan segera menghilang di belakang, dan kapal terus melaju menembus angin segar. Para awak kapal yang kujumpai sangat disiplin, cukup baik dan sedikit bicara. Kami berlayar dan berlayar, siang dan malam, untuk waktu yang panjang dan terus seperti itu. Tidak ada keinginan untuk berlabuh dimanapun, kami bebas!. Berlayar tahun demi tahun di laut luas yang anginnya baik. Tak sedikitpun tanda untuk berlabuh. Ada saat aku merasa terasing dan bertanya pada salah satu awaknya, mengapa kita tidak pernah ke daratan. Awak itu menjawab tidak ada yang dinamakan dunia lagi. Dunia telah lenyap, tenggelam di kekelaman. Yang ada hanya kita.

Perjalanan yang jauh dan penuh rahasia, kadang aku berpikir dimana kaptennya? Kami mengkapteni diri sendiri, kami adalah manusia bebas.

Aku rasakan ini luar biasa. Kami tetap berlayar untuk waktu yang lama. Laut terbentang luas. Angin terus berhembus, akrab dengan layar hitam. Segala sesuatunya terasa kosong; hanya ada kedalaman di bawahnya. Entah darimana, tiba-tiba datang serangan badai yang menggetarkan. Samudera meraung dan menghantam sekeliling kapal. Kami berjuang di dalam gelap. Badai tak juga mau surut, juga kegelapan. Bertahun-tahun tak juga berhenti. Kabut gelap menyelimuti layar hitam, segalanya kelam, hampa, dan terasing. Kami berjuang di gelapnya malam, dalam kebingungan dan keinginan, meronta, menjerit, berpeluh campur air mata, tak berani berharap lagi.

Sampai saatnya kami dengar dentuman kehancuran. Kami dilanda gelombang dan terhempas pada karang yang muncul dari dalam laut. Kami hancur berkeping-keping dan berpegangan pada batu karang. Layar Hitam itu utuh tak terkoyak namun kini terapung menjauh; dan dengan segenap daya kami bertahan di karang itu.

Sementara bertahan, aku berpikir. Aku tahu nanti, sesaat tadi, sebelum kandas telah diberitahukan padaku. Layar hitam akan terkembang, datang kembali bersama panji-panji tengkoraknya, pangeran kegelapan kaptennya. Gemetar dan takut kurasa. Akankah aku terbawa lagi?

Tak lama, ada berkas cahaya menelusup kelabu dan kami mulai dapat melihat. Karang yang menyelamatkan ini ternyata pulau kecil yang berbatu dan suram. Hanya ada sebatang pohon dengan sedikit tunas daun, tak berbunga, tidak indah, bercabang silang diatasnya, bermahkota duri di puncaknya, namun kami tertarik berada didekatnya. Kami dapat bergembira, berbaring, dan menangis karena sukacita. Ini adalah tanda kehidupan, awal kebangkitan melawan kegelapan dunia.

Statistik : wanita lebih banyak dari pria

Tuesday, January 17th, 2006

Di suatu masa entah kapan persisnya, tak seorangpun yang tahu. Pada suatu pagi, bumi kedatangan dua manusia, mereka pernah berkunjung sebentar. Cukup baik dan indah disini, ada pohon-pohon dan awan berarakan, gunung menjulang dengan hutan dan ladangnya, merasakan angin bertiup. Saat matahari terbenam, semua masih dapat disentuh walau terlihat memudar, begitu misterius; namun semua ini dirasakan tak sebanding dengan dunia dari mana mereka berasal sebelumnya. Itulah sebabnya mereka hanya berkunjung sebentar, rela untuk tinggal sementara karena mereka saling mencintai, dan karena cinta itu, tak ada tempat lain seperti di bumi ini.

Kelihatannya cinta bukanlah sesuatu yang harus diambil untuk diberikan pada dunia ini, kasih yang dapat melengkapi segalanya, tapi cinta merupakan pemberian kepada siapapun yang mengharapkan hal terbaik yang dapat terjadi di dunia ini. Dahulu seperti itulah cinta, tapi faktanya yang terjadi adalah sebagaimana mereka nyata dan terang pada awalnya kemudian berubah menjadi pelarian di bumi ini, cinta menjadi tak dapat dimengerti, terselubung, intrik. Mereka adalah orang asing disini, dan telah kehilangan anugerahnya. Cinta yang telah mempersatukan mereka yang dulunya merupakan keajaiban, menjadi sesuatu yang rapuh, memalukan dan dapat mati. Karena itulah mereka hanya ingin tinggal sebentar saja di dunia ini.

Tak selamanya hari siang dan terang. Saat malam, kegelapan melingkupi semuanya, tak ada lagi yang bisa dilihat. Mereka berbaring di kegelapan, telinga tetap terjaga. Mereka ngeri mendengar angin meniup pepohonan. Dan mereka meringkuk dibawahnya “Mengapa kita hidup disini?”

Lalu si pria membuat tempat perlindungan, tidak permanen berupa tumpukan batu karena sering berpindah-pindah. Si wanita menghamparkan rumput didalamnya dan menunggu suami saat malam datang. Cinta mereka semakin dalam dari sebelumnya, dan dapat melupakan sejenak tugas mereka di dunia ini.

Si wanita kemudian melahirkan anak laki-laki. Ada sukacita kelahiran, mereka bergembira, dan harus segera mencari tempat yang baru lagi.

Betapa aneh dunia ini, habis kemarau datang musim hujan, begitu terjadi sebaliknya. Dengan cara inilah mereka mengenali waktu-waktu yang telah mereka lewati. Si wanita kembali melahirkan anak laki-laki.

Suatu hari di petualangannya dan penaklukannya, si pria bersukacita berhasil merobohkan pohon. Dia menciumi bumi, karena tahu tanah inilah tempat peristirahatan orang yang dicintainya diatas segala yang ada. Tetapi si wanita mulai mencintai awan-awan, pohon raksasa, karena si pria berada dibawah mereka, dan dia lebih mencintai senja karena lebih dulu sampai di rumah dibanding si pria. Betapa tidak menyenangkannya dunia ini, tidak seperti dunia milik mereka sebelumnya.

Aneh dunia ini, aneh pula ceritanya : Jumlah wanita banding pria saat itu adalah 1 banding 3. Wanita mencintai banyak hal dan tidak ada saingan.

Tapi coba lihat sekarang di tahun 2006, memang belum satu banding empat (BPS, 2005) namun kedudukan telah berimbang. Entah bagaimana bisa sebanyak ini, mungkin kutukan sekaligus berkah. Ada banyak wanita tersedia.

Di ragunan tak ada yang begini!

Sunday, January 15th, 2006

Di zaman purba wanita ga pake baju. Patokan sebagai bermartabat, terhormat atau wanita hebat waktu itu mungkin diukur berdasarkan kemampuannya melahirkan anak-anak yang sehat dan tangkas. Disini masih jadi pertanyaan apakah kecantikan dan keanggunan wanita juga dihargai waktu itu. Kemungkinan lain yang juga patut dipertanyakan adalah, apakah pada saat itu wanita dihargai karena badannya bongsor, nonjol, atau dari cara cekikikannya. Waktu itu, cekikikan ala setan dan ketawa lebar-lebar mungkin saja merupakan gaya paling top oke banget dibanding yang senyum malu-malu. Namun sodara2, sampai sekarangpun zaman tersebut masih jadi perdebatan ahli2 arkeolog apakah zaman purbakala memang ada?…(Arkeolog???….dengan dasar ilmiah dan nilai sejarah selalu berdebat soal umur fosil atau batuan, dan tidak selesai-selesai. Soalnya kalau profesor2 itu tidak beda pendapat, mereka takut ga ada kerjaan lagi…..kerjanya memang cuma itu!)

Kaum pria di zaman rolling stones itu dipercaya telah dapat berinovasi dengan batu2, bekerja dan membuat peralatan dari batu. Pria2 itu mempertahankan eksistensinya, wanitanya, anak2nya, dan buat orang2 sekampungnya, dengan menggunakan batu yang tujuannya adalah untuk keamanan dalam mencari makan. Intinya para pria bekerja melakukan apapun dengan menggunakan apapun yang semuanya dibuat dari batu. Pada masa itu belum ada kondom karena masih zaman batu, namun demikian mereka sudah dapat berpikir seperti kita manusia modern, dan berhasil memformulasikan suatu teori yang berbunyi “tidak mungkin membungkus sesuatu yang dapat mengeras seperti batu dengan bungkus batu”.

Waktu terus berlalu…. cromagnon, neanderthal, mamoot, manusia trinil alias Homo Solonensis, Pithecantropus Erectus, dinosaurus dan saudara2nya punahlah sudah. Lalu turunlah manusia pertama ke bumi.

Hawa mungkin udah pake tutup, bajunya dari daon-daon…mungkin dari pengetahuannya itu sekarang berkembang jadi seni merangkai bunga. Daun2an pasti banyak macemnya, ada melinjo, pepaya, ganja dan lain-lain…kemungkinan beliau juga pernah pake daun cemara buat nutup bagian pentingnya, biar samar-samar, biar transparan dan membuat adam bergejolak. Dan diyakini pula bahwa pada zaman itu, wanita berkulit tebal dan kebal sehingga walaupun ditutup pake daun, badan tidak akan mengalami gatal.

Apa pula yang dilakukan kaum adam?…Ya cari bini ya cari makan!

Setelah zaman batu, muncul zaman perunggu yang merupakan awal zaman materialistis, kemudian zaman nabi-nabi, zaman klasik, era mesin uap, era keroncong, era rock n roll,  nuklir, era  budaya pop n kapitalis, n sekarang zaman campur aduk dan informasi. Segala macam zaman itu punya cerita kegembiraan dan kisah kesedihannya sendiri, namun patut disyukuri oleh semesta alam sekalian bahwa kita manusia pernah mengalami zaman keemasannya, yaitu di zaman rock n roll…Ini adalah fakta dan hal serius yang tak perlu dibantah. Terima saja!

Dari munculnya zaman materialistis sampai sekarang ini, ada satu hal yang patut dicatat…wanita udah pake baju, ada anting2 buat kuping, puser, idung, dan buat vaginanya (mohon maaf kalau ada yang keberatan terhadap ucapan n tulisan vagina…boleh diucapkan asal minta maaf lagi kan? … VAGINA! MAAF!)  pake gelang buat di tangan n kaki, kalung dan pernak pernik lainnya. Daun cemara yang di zaman adam n hawa berfungsi untuk menutup aurat berinkarnasi jadi baju jala2 tembus pandang. Penutup beragam jenis bentuk dan warnanya seperti dedaunan juga. Segala macem tambahan pernak-pernik itu dirasakan perlu dipakai sebagai identitas diri buat kaum wanita. Hal-hal ini telah menjadi ukuran kehormatan dan keanggunan wanita di zaman-zaman ini.

Perlukah  berbicara atau menuliskan tentang moral di zaman ini?…binatang apa pula moral itu!? Penilaian dan ukuran kehormatan pada seorang wanita mengalami perubahan juga; melahirkan anak2 yang sehat n pintar udah ga laku, etiket itu kuno, wawasan basi juga, kelemahlembutan apa lagi…basi banget!.

Pria dan wanita berjalan menempuh waktu secara beriringan, bergerak paralel dan mustahil ada titik temu walau tetap berdampingan. Pria juga udah makin maju dan pinter, ya cari makan juga milih wanita-wanita, tidak lagi milih-milih wanita.

Hargailah kaum perempuan! itu semboyan zaman modern karena memang dipercaya wanita itu berharga, dan benar memang ada harganya…puluhan ribu sampai puluhan juta. Hal lain yang penting untuk diketahui dan dicatat adalah bahwa usia dan masa pakai seorang perempuan turut menentukan nilai jualnya. Usia perempuan ada masa optimumnya, dipercaya antara usia 18 s/d 35 (entahlah mungkin sampai 30an saja) adalah usia siap petik dan sedang ranum2nya, banyak dicari dan diminati. Berkenaan dengan perihal nilai jual tadi, hal tersebut telah mengikuti kaidah ilmiah yang benar dan sesuai dengan prinsip ekonomi, semakin banyak diminati semakin tinggi harganya.

Pria-pria zaman ini walau sudah maju tak jauh beda dari zaman dulu…cari makan, cari materi dan cari perempuan. Pria tak ada usia optimumnya, tak ada masa pakainya, semua tergantung materi.  Tua maupun muda, selama masih bisa tegak berdiri, kaum ini adalah pembeli!. Hahh!….Wanita pun tak mau kalah …Selama masih ada yang bisa dijual, kaum wanita adalah pembelanja!

Entah inovasi di zaman modern ini atau udah ada sejak dulu, bahwa janji dan kata manis nan merdu bisa juga dipakai buat membeli (…hehehe… ) Wanita mengatakan dasar lelaki gombal!..Memang benar apa yang dikatakan wanita-wanita itu, yang telah termakan bujuk rayu lelaki, memang begitu adanya : gombal. Setelah menelan bujuk rayu dan tak dapat menjaga dirinya, hilang kehormatannya, tak ubahnya seperti kain pel, kain lap yang bukan lain adalah gombal…lalu marah dan menjerit dasar kalian kaum lelaki, keparat gombal!

Mmmmmmm…nnnggggg….. Pokoknya begitulah.

Lalu adakah yang berharga dan tidak dapat dibeli? Yang bukan kain gombal?

Keanggunan sekarang sudah berbeda makna dan dapat dibeli. Ukuran keanggunan adalah dari kegatelan dan dari bagaimana cara menggaruknya…agak anggun, keanggun-anggunan dan kurang ajar!… Hihihihi.

————————————————

Beware : Sterces eht sdloh natas

Partner sex

Tuesday, January 10th, 2006

Elo sama gue, asing satu sama lain walupun punya kromosom yang sama. Sama-sama menjadi budak hormon, baik tubuh dan jiwa dalam perjuangannya mencari kesenangan dan kebebasan. Kita juga menjalani kebiasaan primitif yang sudah ada sejak dulu kala : proses kenalan, lebih mengenal, dan jauh lebih kenal lagi, kita sama-sama mencoba untuk masuk lebih jauh…..mengarungi samudra yang tak dikenal.

Buat elo sama gue, seks bukan soal menang kalah, seks juga bukanlah suatu job description. Soal seks ini kita sepakat dan suka sama suka.

Latar belakang kita, membentuk kesendirian kita dengan keunikannya masing-masing. Adat istiadat, bahasa dan suku hanyalah bentuk keragaman yang tidak esensial. Kita sepaham hal-hal seperti itu hanyalah pulau-pulau kecil di lautan samudra.

Suku bukan untuk dipersaingkan, bukan pula untuk didefinisikan. Disini kita sepaham juga rupanya….tetapi…..Tetapi itu hanya buat kita berdua yang mau mencoba mengarungi samudra asing itu.

Gue sama elo sama-sama menolak pemikiran yang sempit. Kita dapat saling memberi dan saling mengisi satu sama lain, seperti pasangan batu kali dan semen (tambah sedikit kerikil + air + pasir) menjadi pilar suatu bangunan. Dalam hal ini kita sepakat dan punya visi yang sama untuk membangun tempat perteduhan tak dikenal.

Buat elo sama gue, suku bukan untuk dipersaingkan, seks bukan pula untuk didefinisikan, hal-hal seperti itu kita percaya sebagai sesuatu yang punya kebenarannya masing-masing sebagai tanda keberadaan diri bagi setiap orang.

Elo sama gue mungkin memang cocok….

Di pemilihan langsung yang lalu kita berbeda dalam memilih presiden. Dalam hal ini kita punya dasar pemikiran yang berbeda, pilih partai yang berbeda, kebijakan-kebijakan yang berbeda, kita sama-sama saling bisa melihat kelemahan kandidat pilihan, kejelekan masing-masing capres bukan pilihan, bahkan saling menjelekkan pribadi kandidat presiden lain….gue bilang Hidup Mega!..elo bilang hidup XXXX…(ga mau gue tulis nama capres tsb disini). Picik kah kita?…tidak juga, itu relatif. Kenapa ada orang yang bertindak brutal karena sepotong roti atau karena uang receh? Sepotong roti dan uang receh begitu pentingkah?..ya bisa jadi, itu relatif!. Kita tidak sepakat.

Disini dan disitulah kita berbeda sekaligus menjadi sama dan sepakat tak jadi kemana-mana, tak mampu mengarung samudera tak dikenal; sama-sama budak nafsu, tubuh dan jiwa..Dengan dasar suka sama suka dan atas nama cinta…kita partner seks semata.

Ada haleluya sodara-sodara?….Disini tidak ada!